Where Will We Go?

Senin, 12 Juli 2010 0 komentar
Read More..
Belajar di kelas? Bosen ah… ikut kursus? Males…
Hari gene apa sih yang gak mungkin, teknologi dah cukup ngebantu hidup kita mudah ngelakuin segala hal. So, la budda ‘alaynaa an nasykura ilallaahi ta’ala alladzie qad a’thaana ni’matan katsieratan hattaa nastathie’a an na’iesya sa’adatan fie haaddzihi dunya. Alhamdulillah…
Ilmu wajib kita miliki karena ini adalah salah satu dari sekian ciri yang membedakan antara manusia dan makhluk Allah lainnya. Adalah hal yang wajar ketika kita borred dalam menuntut ilmu, hal tersebut adalah manusiawi. Tapi itu bukan alasan untuk kita berhenti dititik itu. Kita harus memompa kembali semangat kita (Chayo bro…!).
Banyak jalan untuk mengatasi masalah yang merintang dihadapan kita, asal kita terus berusaha. There is a way there is a will. Oops, sorry kebalik. Yang bener tuh there is a will there is a way. It’s right, isn’t it? (Yes, of course! ^_^).
Salah 3 dari sarana alternatif yang dapat kita pilih untuk mengatasi kejenuhan kita dalam belajar yaitu go to the library, go to the internet café, or go to both of them! Internet café? Yes… Eits, tapi jangan macem-macem ya…
Tugas numpuk pengen cepet-cepet selesai? Pergi aja ke warnet. Disana kita bisa dapetin sumber-sumber yang kita cari, Insya Allah. Tinggal ketik kosa kata yang akan kita cari, dalam hitungan detik semua data ada di depan mata. Praktis, hemat waktu, dan gak kemana-mana alias diem di tempat.
Pas ke warnet lagi antri gimana? Atau lagi mati lampu? Atau juga sejuta alasan lainnya? Datang aja ke perpus! Disana banyak tersaji berbagai macam buku. Buku adalah jendela dunia. Tanamkan dalam jiwamu untuk mengisi waktu-waktu senggang dengan membaca buku. Banyak hal yang sepertinya gak mungkin kita ketahui tapi dapat kita peroleh dengan membaca buku. Khairun jaliesi fiz zamaani kitaabun. So, why not to ink our spare time to read a book. It’s a good activity ‘cause it’s better than speaking something nonsense.
By the way, interner gak cuma untuk cari bahan tugas kok! Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari ini. Kita bisa melatih speaking and muhaddatsatuna by it. Caranya? Gampang… gak perlu kursus ke Pare atau kemana-mana. Add aja email atau FB (Facebook) orang-orang bule. Dari Amrik ke’, Egypt, England, and so on dah, trus latihan ngobrol deh sama mereka. One more think, don’t forget to bring your dictionary ‘cuz who knows in the middle of speaking you don’t know some vocabularies. If it happen you can look in your dictionary so that you not shy and he don’t know ‘bout your misunderstanding. Don’t think ‘bout dating here ‘cuz one more time I say to you that we should use it (our technology) maximally, not to lip service with the others but to facility to help us in everything, training of speaking, improve our capability, and so on.
Penulis rasa cukup sekian paparan yang penulis sampaikan. Semoga dengan paparan yang singkat ini akan menggugah semangat teman-teman sekalian untuk tidak bermalas-malasan dan tetap semangat dalam segala hal, ngerjain tugas, cari info, de el el. Hal-hal negatif yang ada dalam hidup kita jangan sampai terus menerus bersemayam dalam diri kita karena jika itu terjadi akan membuat hidup kita terus terlena dalam masa yang merugi. Na’udzubillah…

Secret_ella, Pamex’z girl, NASYA stars’ semester, AF

TANTANGAN REMAJA DI ERA GLOBALISASI

0 komentar
Read More..
Manusia adalah mahluk pembelajar, terutama belajar dari induknya (basco, 2003). Kenyataan sekaang generasi tua terluka oleh konflik-konflik kekerasan. Sejak tahun 1960-an terutama Kalimantan Barat misalnya memang selalu diancam dengan komflik kekerasan yang berbau etnik . dalam setiap komflik itu, peran orang tua ada yang menjadi simpatisan dari salah satu kelompok etnik yang bertikai. Tokoh pendamai dan melahan ada yang menjadi pelaku komflik kekerasan. Ada satu keyakinan bahwa perbedaan meupakan suatu hal yang negative, dan konflik menurut mereka disebabkan karena perbedaan itu. Oleh karena itu perbedaan menjadi suatu hal yang jelek dan harus dihindari. Dalam kontek hubungan antar etnik dan agama, orang tua mengajarkan pada anak-anaknya untuk menghindari relasi pribadi yang diketahuinya dari orang yang berbeda, latar belakang suku, agama, dll. Kondisi inilah yang menjadi keyakinan pada diri anak-anak dan remaja bahwa perbdaan it tdak baikdan harus di jauhi.
Zaman dahulu orang tua ereka mempunyai adapt yang dapat mengatur kehidupan bersama, sehingga semuanya dapaat berjalan dengan lancer dan kelestarian kehidupan baik perorangan maupun kelompok terjamin,” inti adapt ini adalh sejumlah pasangan yang diakui bersama dan ditegakkan bersama, kepemimpinan, peraturan pergaulan, pembagian peluang ekonomi, pelayan kesejahteraan para warga dan pasangan relegius yang terungkap dalam berbagai seremoni adapt”(krist, atok, 2002).
Dalam kehidupan sehari-hari orang tua mengajarkan mereka untuk masuk kedalam ehidupan social serta diajarkan tentang pegangan nilainya secara bertahap melalui inisiasi, pendidikan keluaga.
Masa awal tahun 1980-an, keika revolusi industri mulai memasuki Indonesia, kehidupan masyarakat mulai di penuhi informasi teknologi informasi seperti televise internet, Koran-koran, majalah, dll.dengan peubahan yang begitu cepat , seperti anak-anak dan remaja seperti kehilangan sgala macam pegangan karena pengaruh/ tawaran yang begitu banyak dan bermacam-macam, apalagi dihadapkan dengan penyakai social seperti minum-minuman keras, hburan malam, penodongan dan lain-lainnya dan dengan adanya aksi-aksi kekerasan yang dipertontonkan melalui saran komunikasi dan informasi itu, anak-anak dan remaja menganggap bahwa satu-satunya cara untuk menyelesaikan komflik atau masalh itu dengan aksi keerasan. Jelas bahwa segala perubahan yang begitu cepatmenibulkan suatu ketegangan dalam kehidupan anak-anak dan remaja karena ternyata belum ditemukan suatu “adapt baru” yang diakui dan ditegakkan bersama.
Kehidupan manusia selalu terjadi perubahan gaya hidup, salah satunya yang berkembang adalah gaya hidup instant , dimana orang cenderung untuk mempermudah kehidupannya., dimana tingkat kesulitan dalam bebagai dimensi dan setrata kehidupan dicoba diminimalkan, apalagi dengan pesatnya informasi dan teknologi . dari sinilah para anak-anak dan remaja terjebak atau sering kali tidak disadari selalu berada dalam kehidupan yang yang biasa memanjakan dan mempermudah mereka. Mereka tidak berhadapn dengan kehidupan yang sesungguhnya, sehingga merea tidak terbiasa hidup sulit, padahal kenyataan hidup tidak selalu mudah.
Keterjebakan anak-anak dan para remaja dalam situasi yang seperti itu engakibatkan mereka dalam situasi keterasingan dari realita kehidupan yang ebenarnya. Mereka terbias dengan yang mudah bukan yang sulit, dan disis lain keterasingan tersebut dapat melumpuhkan mereka untuk ambil sikap terhadap pekembangan kehidupan yang terjadi. Cukup besar kecenderungan untuk “ikut saja” dalam perguliran realita kehidupan.
Disamping itu, kenakaln remaja juga akhir-akhir ini mulai menghawatirkan. Keadaan ini dapat terlihat dari prilaku bolos, tawuran antar pelajar/mahasiswa, seks bebas, narkoba dan lainnya. Adapun kenakalan remaja dapat disebabkan oleh factor dari remaja itu sendiri(internal) maupun factor luar (eksternal).
Factor internal berupa;
• Krisis identitas: perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadi dua bentuk integrasi. Pertama, terbentunya perasaan akan onsistebsi dalam kehidupannya. Kedua,tercapainya identitas peran.
• Control diri yang lemah: emaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapt diterima akan terseret dalam prilaku nakal.
Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan control diri untuk bertingkah laku yang sesuai degan pengetahuan.
Factor Eksternal;
• Keluarga: perceraian orang tua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicicu prilaku negative pada remaja. Pendidikan yang salah dalam keluargapun, seperti selalu memanjakan anak, idak memberikan pendidikan agama, atau penolakan tehadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakaln anak. Dan begitu juga teman sebaya yang kurang baik dan komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.

Dari problematika yang ada pada remaja, dipelukan penyadaran pada remaja tentang makna hidup yang sesungguhnya. Keterlibata semua lapisan masyarakat sangat dipelukan, agar generasi muda kita tidak terjerumus ke dalam hal-hl yang negative.

Oleh : Lathifah
Mahasiswa Semester IV Asal Kalimantan

BENARKAH PAHAM KODARIYAH MERUPAKAN PENYEBAB KEMUNDURAN DA’WAH ISLAMIYAH?

0 komentar
Read More..
Perbuatan seseorang mencerminkan pola pikir dan pandangan hidupnya. karena perbuatan merupakan refleksi dari pola pikirnya. Begitu juga dengan da’i, pola pikir yang ada pada adirinya akan tercermin dari sikap dan prilakunya dalam menyikapi masalah ummat yang kompleks dewasa ini dan tercermin dalam perbuatan nyata yang dilakukannya ditengah masyarakat.
Dalam menyikapi suatu permasalahan, kita umumnya menggunakan salah satu dari dua macam cara berpikir berikut ini. yaitu jabariah (fatalism/predestination) dan kodariah (free will/free act). Dimana pola pertama berpandangan bahwa perbuatan manusia merupakan refleksi dari kehendak mutlak Tuhan. Sedangkan manusia tidak memiliki andil sedikitpun dalam menentukan perbuatannya. Sedangkan pendapat yang kedua free will mengatakan sebaliknya, bahwa perbuatan manusia bukanlah refleksi dari kehendak tuhan. Dari kedua cara berpikir ini, muncullah aksi yang berbeda. Aksi yang merefleksikan pandangan hidup yang pelakunya.
Kesalahan dalam memahami Paham predestination atau yang sering kita sebut dengan kodariah (mazhab asy’ariah) mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan da’i dewasa ini. Dimana da’i berpandangan bahwasanya semua yang dilakukan adalah refleksi dari kehendak Allah, sedangkan manusia sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melakukan segala sesuatu secara personal.
Berangkat dari sinilah para da’i kontemporer banyak yang menjadi da’i yang fatalis. Dalam artian hanya menyerahkan semuanya kepada Allah dan pasrah tanpa mau mencari inofasi baru yang lebih kreatif dalam menyampaikan syi’ar agama islam. Sehingga sering kita dengar para da’i memenjarakan edialismenya dengan mengatakan “ini memang sudah kehendak Allah” atau ini memang sudah takdir dan yang lebih ekstrim lagi mereka mengatakan ini sudah dituliskan dilauhil mahfud”. Ungkapan ini memang benar dan tidak ada yang menyangkalnya. Tetapi, apakah mereka tidak sadar bahwa Allah juga menggantungkan perubahan diatas tangan manusia¬ _”sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum tersebut mengubah nasibnya sendiri”_
Oleh karena itu, jika kita mengartikan paham kodariah ini tanpa pemahaman yang benar, maka kita akan menjadi da’i-da’i yang hanya bisa berpangku tangan pada kehendak mutlak tuhan. Tanpa menyadari potensi yang diberikan tuhan kepada manusia yang berupa akal dan kemampuan untuk berbuat.
Untuk menghindari hal ini, mungkin sudah saatnya kita meluruskan pemahaman tentang kekuasaan mutlak tuhan. Berhati-hatilah dalam mema’nai kalimat _Tuhan mempunyai kekuasaan yang mutlak dan apa yang dilakukan oleh manusia adalah refleksi dari kehendak mutlak Tuhan_ yang menjadi pengakuan seorang hamba terhadap kekuasaan penuh sang penciptanya.
Dalam memahami kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, mungkin sebagai seorang da’i ada baiknya jika kita memakai ma’na kodariah selain dari ma’na diatas. Sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad Iqbal. Kendati mengumandangkan misi kekuatan dan kekuasaan Tuhan, namun Muhammad Iqbal tidak menjadikan pandangannya itu menjadi pembunuh ego kreasi yang bersemayam di kedalaman diri. Ia selalu membuka katup cakrawala pemikirannya atas dunia di luar Islam (terutama Barat). Ketika Iqbal meramu postulat, “Saya berbuat, karena itu saya ada (I act, therefore I exist)”, membedakannya dengan pemikir Muslim terdahulu yang banyak terjebak keni’matan_menyatukan diri dengan Tuhan, tetapi ego kreasi dalam diri mereka terkikis habis.
Gejala tersebut oleh Iqbal diistilahkan dengan “kesadaran mistis” dan tentunya sangat bertentangan dengan “kesadaran profetik”. Kesadaran mistik adalah istilah yang digunakan Muhammad Iqbal untuk mengatagorikan konsep wahdah al-wujud sebagai salah satu usaha yang dilakukan manusia dengan menafikan kehendak pribadi ketika mengidentifikasikan diri dengan Tuhan. Maka, aktivitas kreatif menjadi tidak terlihat dalam hidup keseharian. Sedangkan, kesadaran profetik adalah sebuah cara mengembangkan kesadaran melalui aktivitas kreatif dan inopatif yang bebas dan melalui kesadaran bahwa aktivitas kreatif manusia adalah aktivitas Ilahi.

Oleh : Hilmi.
Mahasiswa semester IV,
Jurusan Filsafat asal Lombok.

PERGAULAN IKHWAN-AKHWAT

0 komentar
Read More..
Baiti Jannati. Pergaulan dalam istilah bahasa Indonesia berarti kehidupan bersama. Yakni kehidupan antara sesama manusia. Salah satu bentuk pergaulan antara sesama manusia adalah pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Terkadang bentuk pergaulan tersebut bisa berupa persahabatan yang terjalin antara mereka dengan saling mengutarakan isi hati (Tempat curhat).
Sebuah persahabatan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan bisa dilatarbelakangi oleh kesamaan Ide, gagasan, gaya hidup, minat, kebutuhan-kebutuhan, cara berfikir dan harapan-harapan. Dari situ muncullah simpati dan selanjutnya akan ada keterbukaan, jika sudah saling terbuka, maka dilanjutkan dengan sikap curhat dalam nuangsa relegiusnya biasanya dipakai kata “Ukhuwah”. Namun ukhuwah ini didasari dengan keimanan, keikhlasan dan Muroqabatullah.
Kedudukan sahabat begitu khusus dalam hati seseorang, sehingga persahabatan yang terjadi antara lawan jenis non Mahrom perlu dipertanyakan, apakah mereka memang murni sebagai seorang sahabat ? sebab tidak tertutup kemungkinan di hati mereka atau salah seorang diantara mereka ada perasaan memiliki dan penuh harap. Curhat yang terjalin diantara merekapun sebenarnya bukanlah untuk mencarikan sebuah solusi namun tidak jarang hanya untuk pengaduan dan minta perhatian.
Secara fitrah, antara laki-laki dan perempuan memiliki saling ketertarikan sepert posifit dan negatif, sehingga tidak ada hubungan persahabatan yang benar-benar tulus diantara mereka. Hal ini perlu menjadi perhatian bagi bagi ikhwan maupun akhwat, sebab fenomena yang berkembang akhir-akhir ini telah terjadi kelonggaran dalam pergaulan, apakah memang zamannya sudah berubah atau karena ruang lingkup Dakwah telah meluas, pergaulan sudah hiterogen, bahkan dengan masyarakat secara umum. Sehigga perlu evaluasi kembali terhadap lawan jenis. Kendati apa yang dilakukan semata-mata demi perkembangan ajaran Islam.
Islam sebagai Dinullah telah mengatur kehidupan antara sesame manusia dengan rincinya. Islam sangat menjaga agar hubungan kerja sama antara laki-laki dan perempuan (Ikhwan dan Akhwat) hendaknya bersifat umum dalam urusan-urusan muamalat bukan hubungan yang bersifat khusus seperti saling mengunjungi antara mereka yang bukan mahrom atau jalan-jalan bersama. Kerja sama antara keduanya bertujuan agar mereka melaksanakan apa yang menjadi kewajiban-kewajibannya.
Intraksi diantara mereka mestinya tidak mengarah kepada hubungan yang bersifat nafsu syahwat, artinya intraksi mereka tetap dalam koridor kerja sama semata (Amal Jama’i) dalam menggapai berbagai kemaslahatan Dakwah dan dalam melakukan berbagai macam aktivitas yang bermamfaat, tampa diwarnai dengan kepentingan individu lainnya.
Pergaulan Ikhwan dan Akhwat hendaknya menjadikan aspek ruhani senagai landasan hukumdan syarat sebagai tolak ukur yangdidalamnya terdapat hukum yang manpu menciptakan nilai-nilai akhlak yang luhur.
Dalam menjaga hubungan dengan lawan jenis, rambu-rambu yang telah tentukan islam hendaknya dijadikan pedoman sekalipun hubungan tersebut dalam kerangka dakwah. Larangan dalam persoalan ini Diantara ketentuan hukum yang berkenaan dengan hubungan terhadap lawan jenis antara lain adalah :
Pertama: Perintah Untuk Menjaga Pandangan
Allah SWT berfirman yang artinya:” Katakanlah kepada laki-laki mukmin, hendaklan mereka menahan pandangnnya dan memelihara kemaluannya. Sikap demikian adalah lebih suci bagi mereka . Sesungguhnya Allah Maha Tahu atas apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada Wanita Mukmin, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. (QS An-Nur :30-31)
Adapun salah satu perintah Allah yang hampir kita lupakan adalah menjaga pandangan, menjaga pandangan terhadap lawan jenis tetap harus dijaga,bukan berarti kita tidak melihat lawan jenis sama sekali. Namun menjaga mata agar tidak saling menatap, sebab tatapan mata yang berlama-lama dapat mempengaruhi perasaan sehingga syaitan dengan leluasa menggoda. Rukhshoh hanya diberikan kepada mereka yang terlibat dalam berbagai si-kon (situasi dan kondisi) diantaranya yang terlibat dalam: Proses belajar mengajar, transaksi jual beli,memberikan kesaksian, berobat dan saat Khitbah.
Kedua : Menutup Aurat
Islam telah memerintahkan kepada kaum wanitauntuk mengenakan pakaian secara sempurna. Yakni pakaian yang menutup seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telepak tangannya. Sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an yang artinya “……………………..
Adapn model dan bentuk pakaian tidaklah termasuk urusan ibadah murni tetapi termasuk dalam aspek muamalah yang illat dan ketentuan hukumnya berperoses pada maksud dan tujuan syariat (Sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof. Abdul Halim dalam Tahrirul Mar’ahnya).
Oleh sebab itu, bagaimanapun bentuk dan model pakaian tidak menjadi masalah asalkan menutup aurat dan memenuhi kreteria dan persaratan yang ditetapkan syariat, sesuai dengan kondisi iklim dan pada sisi lain memudahkan wanita bergerak, maka dapat diterima oleh syar’i. kreteria dan persyaratan itu diantara lain menutupi seluruh tubuh kecuali muka da telepak dan punggung tangan, Longgar, tidak ketat dan tidak transparan , serta serasi dan tidak mencolok.
Ketiga : Berkhalwat
sangat melarang pria dan wanita untuk berkhalwat (berdua-duaan), kecuali wanita itu disertai mahromnya. Rasulullah Saw bersabda : “Tidak dibolehkan seorang wanita dan pria berkhalwat (berdua-duaan) kecuali wanita itu disertai mahramnya”.
Keempat : Ikhtilat
Islam sangat menjaga agar dalam kehidupan khusus, hendaknya jamaah (komunitas) kaum wanita terpisah dari jamaah kaum pria. Begitu juga dalam masjid,sekolah, Dll. Paling tidak jangan sampai terjadi perbauran (Ikhtilat), sekalipun dalam urusan dakwah. Pengaturan dan penjagaan shaf ikhwan dan akhwat baik dalam perkuliahan atau dalam kehidupan bermasyarakat seperti didalam kendaraan umum, di pasar, Dll.
Menurut Dr Abdul karim Zaidan hal seperti yang dikategorikan sebagai bentuk dhorurot. Selama kita memang belum bisa mengubahnya. Namun, apabila kita bisa mengaturnya, maka hukum dhorurotnya tidak berlaku lagi.
Demikianlah sebagian kecil dari sekian banyak rambu-rambu yang telah diatur Islam dalam pergaulan. Para penda’i telah menyebar, para mufassir sudah semakin banyak, dan pergaulan susah semakin luas. Namun kita sebagai kader mufassir, dakwah hendaklah tetap menjaga syariat dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.
By : Hanila
Semester IV (TH)
Asal Sumenep